Kematian Paman Gober
Oleh: Seno Gumira Ajidarma
Kematian paman gober ditunggu-tunggu semua bebek. Tidak ada lagi yang bisa
dilakukan selain menunggu-nunggu saat itu. Setiap kali penduduk Kota Bebek
membuka koran, yang mereka ingin ketahui hanya satu hal : apakah hari ini Paman
Gober sudah mati. Paman Gober memang terlalu kuat, terlalu licin, dan bertambah
kaya setiap hari. Gudang-gudang uangnya berderet dan semuanya penuh. Setiap hari
Paman Gober mandi uang disana, segera setelah menghitung jumlah terakhir
kekayaannya, yang tak pernah berhenti bertambah.
Begitu kayanya Paman Gober, sehingga ia tak bisa hafal lagi pabrik apa saja yang
dimilikinya. Bila terlihat pabrik di depan matanya, ia hampir selalu berkata,
“oh, aku lupa, ternyata aku punya pabrik sepatu.” Kejadian semacam ini terulang
di muka pabrik sandal, pabrik rokok, pabrik kapal,pabrik arloji, maupun pabrik
tahu-tempe. Boleh dibilang, hampir tidak ada pabrik yang tidak dimiliki Paman
Gober. Ibarat kata, uang dicetak hanya untuk mengalir ke gudang uang Paman
Gober.
Meskipun kaya raya, anggota klub milyarder no.1, Paman Gober adalah bebek yang
sangat pelit. Bahkan kepada keluarganya, Donal bebek, ia tidak pernah mewmberi
bantuan, meski Donal telah bekerja sangat keras malah Donal ini, beserta
keponakan-keponakannya Kwak, Kwik, dan Kwek, hamper selalu diperas tenaganya,
dicuri gagasannya, dan hasilnya tidak pernah dibagi. Cendekiawan jenius Kota
Bebek, Lang Ling Lung, yang dimuka rumahnya tertera papan nama Penemu, Bisa
Ditunggu, pun hamper selalu diakalinya.
Sudah berkali-kali Gerombolan Siberat, tiga serangkai kelas kakap, menggarap
gudang uang Paman Gober, namun keberuntungan selalu berada dipihak Paman Gober.
Pman Gober tak terkalahkan, bahkan oleh Mimi Hitam, tukang tenung yang suka
terbang naik sapu. Sudah beberapa kali Mimi Hitam berhasil merebut Keping
Keberuntungan, jimat Pman Gober, namun keping uang logam kumuh itu selalu
berhasil direbut kembali. Tidak bisa dipungkiri, Paman Gober memang pekerja
keras. Masa mudanya habis dilorong-lorong gua emas. Sebuah gunung emas yang
ditemukannya menjadi modal penting yang telah melambungkannya sebagai taipan tak
tersaingi dari Kota Bebek.
Suatu hal yang menjadi keprihatinan Nenek Bebek, sesepuh Kota Bebek yang
mengasingkan ke sebuah pertanian jauh di luar kota, addalah kenyataan bahwa
Paman Gober dicintai kanak-kanak sedunia. Pman Gober menjadi legenda yang
disukai. Pman Gober begitu rakus. Pman Gober begitu pelit. Tapi ia tidak
dibenci. Setiap kali ada orang mengecam,menyaingi, pokoknya mengancam reputasi
Paman Gober sebagai orang kaya, justru orang itu tidak mendapat simpati. Paman
Gober bisa menangis tersedu-sedu meski hanya kehilangan uang satu sen. Ia sama
sekalli bukan tokoh teladan, tapi mengapa ia bisa begitu dicintai?
“Dunia sudah jungkir balik,” ujar Nenek Bebek kepada Gus Angsa, yang meski suka
makan banyak, sangat malas bekerja. Namun Gus Angsa sudah tertidur sembari
bermimpi makan roti apel.
“Suatu hari dia pasti mati,” ujar Kwik.
“Memang pasti, tapi kapan?” Kwak menyahut.
“Kwek!” Hanya itulah yang bisa dikatakan Kwek. Dasar bebek.
Begitulah, setiap hari, Lubas, anjing dirumah Donal, membawa Koran itu dari
depan pintu ke ruang tengah.
“Belum mati juga!”
Donal segera membuang lagi Koran itu dengan kesal. Karena memang tiada lagi
berita yang bisa dibaca di Koran. Banyak kabar, tapi bukan berita. Bnyak
kalimat, tapi bukan informasi. Banyak huruf, tapi bukan pengetahuan.
Koran-korantelah menjadi kertas, bukan media.
Semua bebek memang menunggu kematian Pman Gober. Itulah kabar terbaik yang
mereka harapkan terbaca. Paman Gober sendiri sebenarnya sudah siap untuk mati.
Maklumlah, sebagai generasi tua di Kota Bebek, umurnya cukup uzur. Untuk
kuburanya sendiri, ia telah membeli sebuah bukit, damn membangun mausoleum di
tempat itu. Jadi, bukanya Paman Gober tidak mau mati. Ia sudah siap untuk mati.
“Mestinya, bebek seumur saya ini, biasanya ya sudah tahu diri, siap masuk ke
liang kubur. Makanya, ketika saya diminta menjadi Ketua Perkumpulan Unggas Kaya,
saya merasakan kegetiran dalam hati saya, sampai beberapa lama saya bisa
bertahan? Apa tidak ada bebek lain yang mampu menjadi ketua?”
Kalimat semacam itu masuk ke dalam buku otobiografinya, Pergulatan Batin Gober
Bebek, yang menjadi bacaan wajib bebek-bebek yang ingin sukses. Hampir setiap
bab dalam buku itu mangisahkan bagaimana Paman Gober memeburu kekayaan. Mulai
dari harta karun bajak laut, pulau emas, sampai sayuran yang membuat bebek-bebek
giat bekerja, meski tidak diberi upah tambahan. Bab terakhir diberi judul Sampai
Kapan Saya Berkuasa?. Memang, Paman Gober adalah ketua terlama Perkumpulan
Unggas Kaya. Entah kenapa, ia selalu terpilih kembali, meski pemilihan selalu
berlangsung seolah-olah demokratis. Begitu seringnya ia terpilih, sampai-sampai
seperti tidak ada calon yang lain lagi.
“Terlalu, masak tidak ada bebek lain?”
Paman Gober selalu berbasa-basi. Namun, entah kenapa, kini bebek-bebek menjadi
takut. Paman Gober, memang, terlalu berkuasa dan terl;alu kaya. Setiap hari yang
dilakukannya adalah mandi uang. Ketika Donal Bebek bertanya dengan kritis,
mengapa Paman Gober tidak pernah peduli kepada tetannga, bantuan keuangannya
kepada Donal segera dihentikan.
“Kamu bebek tidak tahu diri, sudah dibantu, masih meleter pula.”
“Apakah saya tidak punya hak bicara?”
“Bisa, tapi janngan asal meleter, nanti kamu aku sembelih.”
“Aduh, kejam sekali, menyembelih bebek hanya dilakukan manusia.”
“Ah, siapa bilang bebek tidak kalah kejam dari manusia.”
“Lho, manusia makan bebek, apakah bebek makan manusia?”
“Yang jelas manusia bisa makan manusia.”
“Tapi Pman mau menyembelih sesame bebek, apakah sudah mau meniru sifat manusia?”
Paman Gober mempunyai banyak musuh, namun Paman Gober suka memelihara
musuh-musuh yang tidak pernah bisa mengalahkannya itu, justru untuk menunjukkan
kebesarannya. Paman Gober sering muncul di televise. Kalau Paman Gober sudah
bicara, kamera tidak berani putus, meskipun kalimat-kalimatnya membuat bebek
tertidur. Paman Gober selalu menganjurkan bebek bekerja keras, seperti dirinya,
dan Paman Gober juga semakin sering menceritakan ulang jasa-jasanya kepada warga
Kota Bebek.
“Coba, kalau aku tidak membangun jalan, air mancur, dan monument, apa jadinya
Kota Bebek?”
Tidak ada yang berani melawan. Tidak ada yang berani bicara.
“Paman Gober,” kata Donal suatu hari, kenapa Paman tidak mengundurkan diri saja,
pergi ke pertanian seperti Nenek, menyepi, dan merenungkan arti hidup? Sudah
waktunya Pman tidak terlibat lagi dengan urusan duniawi.”
“Lho, aku mau saja Donal. Aku mau hidup jauh dari Kota Bebek ini. Memancing,
main golf, makan sayur asem, dan membaca butir-butir falsafah hidup bangsa
bebek. Tapi, apa mungkin aku menolak untuk dicalonkan? Apa mungkin aku menolak
kehormatan yang segenap unggas? Terus terang, sebenarnya sih aku lebih suka
mengurus peternakan.”
Maka hari-hari pun berlalu tanpa penggantian pimpinan. Demokrasi berjalan, tapi
tidak memikirkan pimpinan, karena memang hanya ada atu pemimpin. Segenap
pengurus bisa dipilih berganti-ganti, namun kedudukan Paman Gober tidak pernah
dipertanyakan. Para pelajar seperti Kwik, Kwek, dan Kwak menjadi bingung bila
membandingkannya dengan sejarah kepemimpinan kota lain. Kota Bebek seolah-olah
memiliki pemimpin abadi. Generasi muda yang lahir setelah Paman Gober berkuasa
bahkan sudah tidak mengerti lagi, apakah pemimpin itu memang bisa diganti.
Mereka pikir keabadian Paman Gober sudah semestinya.
Dan itulah celakanya kanak-kanak mencintai Paman Gober. Riwayat hidup Paman
Gober dibikin komik dan diterjemahkan dalam berbagai bahasa. Bebek terkaya yang
sangat pelit dan rakus ini menjadi teladan baru. Nenek Bebek tidak habis pikir,
mengapa pendidikan, yang mestinya semakin canggih, membolehkan budi pekerti
seperti itu. Generasi muda ingin meniru Paman Gober, menjadi bebek yang
sekaya-kayanya, kalau bisa paling kaya di dunia.
“Paling kaya di dunia?” Kwak bertanya.
” Iya, paling kaya di dunia,” jawab Nenek Bebek.
“Apakah itu hakikat hidup bebek?”
“Bukan, itu hakikat hidup Paman Gober.”
Sementara itu, nun di gudang uangnya yang sunyi, Paman Gober masih terus
menghitung uangnya dari sen ke sen, tidak ditemani siapa-siapa. Matanya telah
rabun. Bulunya sudah rontok. Sebetulnya ia sudah pikun, tapi ia bagai tak
tergantikan.
Semua bebek menunggu kematian Paman Gober. Tiada lagi yang bisa dilakukan selain
menunggu-nunggu saat itu. Setiap kali penduduk Kota Bebek membuka koran, yang
ingin meraka ketahui hanya satu : apakah hari nin Paman Gober sudah mati. Seriap
pagi mereka berharap akan membaca berita Kematian Paman Gober, dihalaman
pertama.
Jakarta, 16 Agustus 1994