Sepi ini sudah mendarah daging. Merasuk hingga ke dalam sumsum tulang belakangku. Mengendap hingga merasuk ke jiwa. Tapi ku sudah tak peduli lagi. Memang beginilah jalan hidup yang tlah ku pilih.
Lebih baik sendiri dari pada ku merasakan sakit. Lebih baik ku nikmati sepi dari pada hingar bingar yang memekakkan telinga. Saat ini ku butuh sendiri, ku butuh sepi, tuk renungkan setiap langkah yang telah kulalui. Sehingga dapat ku hitung semua jumlah langkah ku. Dapat ku pilih jalur berikutnya yang akan ku ambil.
Malam ini ku rasa letih. Letih akan langkah ku. Sehingga akhirnya ku terdiam, berhenti melangkah, bahkan tak lagi melihat kanan dan kiri. Ku hanya berdiri diam, hening, dan sepi. Ku tutup mulut, telinga, dan mata ku rapat-rapat. Agar tak ada satu pun kata yang ku ucap, tak satu pun suara yang ku dengar, dan tak secercah sinar pun yang ku lihat.
Kubiarkan diri ini berdiri di kegelapan. Bagai tidur tanpa merebah. Tapi entah apa lagi rasa ini yang mengendap-endap menggelitik pori-pori ku seolah ingin membangunkan ku dari keheningan semu ku ini. Rasa apa ini? Inikah rasa rindu akan hangatnya pelukan?
Filed under: Gejolak malam













kata sih, rasa sakit itu yg bikin kita tumbuh…
bener gak sih?
Yup, betul sekali…
Sakit sekali membuat kita kuat.
Sakit dua kali membuat kita giat.
Sakit tiga kali membuat kita ingat.
Sakit terus, bisa buat gila….. hehehe